Skip to Content

Dua Pandemi Berbenturan - COVID-19 dan Diabetes

Covid-19

Pandemi COVID-19 telah menunda operasi elektif di seluruh dunia. Para ahli dari lembaga multidisipliner Diabetes Surgery Summit (DSS) khawatir akan pasien yang sangat butuh operasi bariatrik dan metabolik (seperti operasi bypass lambung), karena menunda perawatan dapat memberikan risiko komplikasi lebih tinggi dari penyakit mereka dan juga COVID-19.

Rekomendasi dari The Lancet Diabetes & Endocrinology yang dipublikasikan hari ini dan dipimpin oleh otoritas kesehatan terdepan di dunia, Professor Francesco Rubino dari King’s College London, menguraikan bahwa kandidat operasi punya risiko morbiditas dan mortalitas terbesar dari diabetes tipe 2 atau dari obesitas akut, dimana operasi ini dapat menyelamatkan nyawa mereka.

Operasi metabolik atau bariatrik telah digunakan selama beberapa dekade untuk merawat obesitas akut, dan dapat memberikan hasil cepat serta mampu menyelamatkan nyawa pasien diabetes yang sulit dikontrol dengan gaya hidup dan terapi oral, atau dengan insulin. Remisi dari penyakit diabetes mereka dapat dicapai bersamaan dengan penurunan berat badan signifikan dan manfaat kesehatan lainnya.

Meskipun demikian, karena sifat operasi bariatrik yang tidak terklasifikasi sebagai operasi darurat, operasi ini dikategorikan sebagai prosedur elektif. Paradoks ini membuat para ahli khawatir, mengingat sifat penyakit diabetes dan obesitas yang progresif dan potensi yang ditunjukkan untuk mendapatkan remisi diabetes dan mengurangi risiko komplikasi lain akibat diabetes, termasuk penyakit jantung.

Waktu tunggu yang lama dan penundaan operasi dapat meningkatkan risiko di pasien dengan kondisi akut yang dapat mengancam nyawa, organ, atau anggota badan lainnya dan hal ini mungkin dapat terjadi sekarang akibat pandemi COVID-19.

Ahli diabetes dan obesitas dari Monash University, Professor Paul Zimmet dan Professor John Dixon mengatakan bahwa rekomendasi-rekomendasi baru ini meliputi intervensi non-operasi untuk memperbaiki metabolisme dan kontrol berat badan bagi pasien yang sedang menunggu operasi, protokol telemedicine untuk pengawasan pascaoperasi, dan penggunaan kriteria yang pas untuk menilai kandidat operasi di periode saat ini, dimana terbatasnya kapasitas operasi elektif.

“Di momen bersejarah ini, kita melihat benturan dari dua pandemi global - diabetes dan COVID-19,” kata Professor Zimmet.

“Angka penderita dua penyakit ini terus naik. Epidemi diabesity (diabetes dan obesity/obesitas) berhubungan erat dengan gaya hidup yang jarak bergerak. Walaupun situasi ini semakin parah selama pandemi COVID-19, ini adalah komponen penting yang dibutuhkan oleh pemerintah kita dalam melawan epidemi virus berbahaya ini.

“Lebih dari itu, saat kami bergerak menuju fase pemulihan, kami harus mengenali pentingnya mengalihkan perhatian kita ke diabetes dan obesitas sebagai beban utama dalam penyakit kronis nasional.”

Professor Rubino, kepala bedah bariatrik dan metabolik di King’s College London dan konsultan dokter bedah di King’s College Hospital mengatakan: “Di saat sumber daya sedang terbatas, pasien dengan risiko tertinggi dari penyakit yang tidak diobati harus diidentifikasi dan diprioritaskan untuk mendapatkan akses ke perawatan. Kesalahpahaman bahwa operasi bariatrik adalah ‘pilihan terakhir,’ stigma tentang obesitas, dan kriteria seleksi pasien yang tidak memadai dapat membawa kesengsaraan bagi kandidat operasi diabetes dan obesitas.”