Skip to Content

Kembali ke Sekolah Sekarang? Sebaiknya Buat Rencana untuk Tetap Belajar Jarak Jauh

Thought Leadership 12

Di saat banyak keluarga dan sekolah menantikan kembalinya pembelajaran tatap muka langsung, kita harus mempertimbangkan dan mempersiapkan diri untuk kemungkinan pembelajaran jarak jauh atau homeschooling yang akan terus berlanjut.

Pembukaan sekolah secara bertahap dan kembalinya pembelajaran tatap muka memberikan kita sedikit harapan kalau hidup akan kembali seperti semula.

Terutama, dapat dimengerti jika banyak politisi, guru, murid, dan orang tua yang lega karena metode belajar akan berganti dari remote learning yang sudah dialami oleh sebagian besar penduduk di dunia selama beberapa bulan terakhir.

Meskipun demikian, ada kemungkinan jika metode belajar dari rumah yang kita alami pada bulan Maret, April, dan Mei adalah sesuatu yang harus kita adaptasikan. Walaupun banyak orang yang lega karena sudah selesai lockdown, sedikit sekali ada pembicaraan tentang betapa drastisnya perubahan pendidikan ini yang sepertinya akan terus berlanjut.

Meskipun beberapa sekolah di seluruh dunia sudah mulai kembali beroperasi seperti biasa, sebagian besar lainnya masih terus melanjutkan belajar dari rumah untuk beberapa waktu ke depan. Tentunya, sampai pandemi ini berakhir, kepraktisan para murid untuk belajar tatap muka di sekolah akan sangat tidak pasti.

Tentunya, kita tidak mungkin menyamakan situasi pandemi ini dari satu negara dengan negara lainnya, tapi rasanya masuk akal untuk tidak mengabaikan kemungkinan kalau periode-periode awal lockdown ini akan diikuti oleh yang lainnya. Sekolah-sekolah mungkin akan diminta untuk kembali untuk belajar dari rumah begitu ada kasus-kasus baru di komunitas terdekat mereka. Jika terjadi gelombang pandemi berikutnya, sebagian besar sekolah dan keluarga terpaksa harus kembali ke kondisi awal remote learning.

Bahkan jika kita berhasil melewati repetisi penutupan sekolah berskala luas selama sisa pandemi ini, ada serangkaian keadaan darurat dan krisis yang mungkin dapat mengancam stabilitas pembelajaran tatap muka di sekolah.

Komunitas yang terdampak bencana alam seperti kebakaran, banjir, dan lainnya mungkin harus kembali ke pilihan belajar jarak jauh. Meskipun gangguan seperti ini terhadap pendidikan anak belum pernah terjadi sebelumnya, sepertinya ini tidak akan menjadi pengalaman sekali dalam seumur hidup.

Apabila sekarang bukan waktunya kita melihat banyak murid harus belajar dari rumah lewat pendidikan jarak jauh, maka masuk akal jika kita mempersiapkan diri untuk remote learning di tahap-tahap berikutnya.

Tingginya biaya penutupan sekolah

Tentu saja dalam beberapa bulan terakhir, guru, murid, keluarga, dan sekolah berusaha sebaik mungkin untuk bisa melewati ini. Melihat seluruh komunitas sekolah langsung bekerja sama dalam waktu singkat memang menjadi salah satu pemandangan yang menenangkan hati di saat sistem pendidikan kita sedang kacau seperti ini.

Tapi, gelombang penutupan kembali sekolah-sekolah ini ada harganya. Banyak keluarga dan sekolah sekarang sudah kelelahan. Yang paling serius adalah ada perbedaan sangat besar yang dapat dicapai antara sekolah dan rumah.

Dengan demikian, prospek untuk mengalami hal seperti ini lagi dalam waktu dekat harus mendorong diskusi tentang apa yang harus diperbaiki kedepannya. Tentu banyak kisah sukses dari lockdown saat ini yang dapat dipertahankan. Tetapi, harus diakui juga ada kurangnya dari sisi praktik profesional dan prosedur institusional.

Sebagai contoh, apakah menyenangkan bagi guru untuk live-streaming semua kelas mereka sepanjang hari? Sekolah dan keluarga mana yang paling kesulitan untuk menjaga kebutuhan dasar pembelajaran jarak jauh, dan apa yang dibutuhkan untuk membantu mereka nantinya?

Meskipun saat ini sedang tidak ada tenaga dan keinginan, ada kebutuhan penting untuk menginvestigasi dan mengaudit apa saja yang sudah terjadi selama beberapa bulan terakhir.

Dapat dimengerti jika ada rasa enggan untuk mengkritisi segala usaha yang telah dilakukan selama beberapa bulan terakhir. Namun, sekarang adalah saatnya mengidentifikasi metode apa yang berhasil (dan yang tidak), agar dapat mempersiapkan dengan lebih baik kedepannya. Proses ini harus berlangsung di lingkungan sekolah dan juga di sistem yang lebih luas.

Waktunya bersiap dan merencanakan

Sekarang adalah waktu bagi sekolah, keluarga, dan pembuat kebijakan untuk merefleksikan apa saja kesuksesan dan kesalahan mereka dari pengalaman pihak lain yang dapat dibandingkan. Lalu, dengan semua bukti-bukti ini, kita dapat merencanakan apa yang harus dilakukan jika tiba-tiba harus ada pembelajaran darurat dari rumah lagi.

Hal ini tentu saja memunculkan berbagai macam tantangan yang harus diselesaikan. Contohnya:

  • Apa saja ruang lingkup untuk mengembangkan pembelajaran profesional yang cepat (dan juga kuat) bagi para guru yang dihadapkan dengan prospek remote learning yang tidak direncanakan?
  • Bagaimana guru, orangtua, dan pihak terkait dapat berbagi pengalaman remote learning mereka dan apa praktik terbaik/terburuk dalam konteks yang jujur dan konstruktif?
  • Apa saja lingkup nasihat dan pelatihan terbaik untuk keluarga? Dukungan sistem dan sumber daya seperti apa yang dapat dibangun untuk keluarga yang harus merombak mereka sendiri sebagai tempat untuk sekolah?
  • Infrastruktur tambahan (digital dan non-digital) apa yang dibutuhkan untuk ditempatkan di sekolah dan di rumah murid serta guru mereka?
  • Panduan dan kebijakan apa yang harus dirumuskan terkait privasi data, perlindungan anak, tata kelola teknologi, dan akuntabilitas?

Akan ada lebih banyak dari lima poin di atas untuk dipikirkan secara matang, namun dengan pelonggaran lockdown saat ini memberikan waktu berharga bagi kita untuk memulai proses ini dengan baik.

Di tengah kelegaan karena sudah bisa kembali ke sekolah, guru, orangtua, kepala sekolah, dan pembuat kebijakan masih harus berpikir keras tentang kemungkinan belajar jarak jauh darurat. Beberapa bulan ke depan akan menjadi tidak pasti bagi dunia pendidikan - jadi rasanya masuk akal jika kita bersiap dari sekarang.

Menampilkan

Neil Selwyn, Professor, Fakultas Pendidikan

Riset Neil berfokus pada penempatan media digital dalam kehidupan sehari-hari, dan sosiologi teknologi yang tidak digunakan dalam konteks pendidikan. Dia telah menulis berbagai masalah seperti eksklusi digital, perumusan kebijakan teknologi pendidikan, dan pengalaman murid dalam pembelajaran berbasis teknologi.