Skip to Content

Peneliti Melbourne Gunakan Teknologi Mutakhir Hasilkan Tiga Kandidat Vaksin COVID-19

Monash researchers produce 3 new vaccine candidates

Para peneliti di Monash University telah membuat kandidat vaksin mRNA COVID-19 yang pertama kali diketahui di Australia dengan menggunakan pendekatan teknologi mutakhir yang mampu menghasilkan dan menyiapkan vaksin tercepat untuk diuji coba ke manusia dalam sejarah.

Dengan seluruh dunia berlomba membuat vaksin COVID-19, Professor Colin Pouton dan timnya di Institute of Pharmaceutical Sciences di Monash (MIPS) di Fakultas Farmasi dan Ilmu Farmasi, menghasilkan tiga kandidat vaksin baru dalam kurun waktu empat minggu dengan menggunakan metode genetik baru yang menghilangkan proses yang memakan waktu untuk mengembangkan virus tersebut.

Ketiga vaksin sudah siap masuk ke uji coba tahap pertama untuk menilai kandidat vaksin mana yang memberikan respon antibodi paling menjanjikan.

Tim Professor Pouton menggunakan metode bernama ‘vaksinasi mRNA’ - sebuah proses yang sangat cepat karena faktanya, tidak seperti kandidat vaksin COVID-19 lainnya, metode tersebut tidak memerlukan protein untuk diubah menjadi bakteri kemudian dimurnikan dan dikarakterisasi.

Pendekatan serupa telah digunakan untuk membuat vaksin COVID-19 terdepan yang telah diuji coba ke manusia di Amerika Serikat, berkat infrastruktur yang aman dan sudah terbentuk sehingga memungkinkan para peneliti di Amerika Serikat dapat maju dengan cepat ke tahap uji klinis.

Professor Pouton berargumen bahwa Australia seharusnya punya wadah sendiri untuk merespon terhadap virus-virus yang muncul, dan bahwa vaksinasi mRNA adalah pilihan tercepat.

“Kandidat vaksin mRNA dapat diproduksi untuk percobaan dalam waktu dekat setelah virus baru terdeteksi, dan jika virus tersebut bermutasi, vaksin baru dapat dicoba dalam waktu beberapa minggu,” kata Professor Pouton.

“Di Amerika Serikat, metode mRNA yang digunakan untuk memproduksi produk untuk injeksi sudah terbentuk dengan aman. Ini menjelaskan mengapa mereka dapat bertindak cepat mulai dari bekerja dengan urutan genetik pertama yang dibagikan oleh otoritas Cina pada awal Januari, hingga melewati fase kritis pertama di percobaan pada manusia.”

Professor Pouton mengatakan bahwa di saat timnya sudah bisa menggunakan ilmu mRNA untuk menghasilkan tiga kandidat vaksin baru, saat ini tantangannya adalah pendanaan dan belum ada fasilitas produksi uji klinis untuk formula vaksin mRNA, sehingga menghambat kemampuan para peneliti Australia untuk membuktikan betapa banyaknya manfaat dari teknologi baru, sekaligus penting, ini.

“Penting bagi kita untuk membuat sistem respon cepat milik kita sendiri di Australia dengan menggunakan vaksinasi mRNA, tidak hanya untuk COVID-19, tetapi juga untuk virus-virus lainnya yang dapat muncul di masa depan di seluruh dunia,” ujar Professor Pouton.

“Kebutuhan akan vaksin COVID-19 merepresentasikan sebuah kesempatan untuk Australia - kemampuan dan infrastruktur yang diperlukan untuk memproduksi vaksin mRNA jelas tersedia, meskipun sekarang kita tertinggal dan hal ini harus segera diubah.”

Monash University berada di urutan kedua institusi di dunia untuk riset dalam bidang disiplin farmasi dan ilmu farmasi.

Hubungi: Kate Carthew

E-mail: kate.carthew@monash.edu